PKS: MOMENTUM SHARING KNOWLEDGE

Sharing knowledge adalah salah satu aktivitas konstruktif yang mesti dipelihara, dikembangkan dan ditingkatkan dalam kehidupan berorganisasi.  Pengembangan tradisi ini dalam memanage jalannya roda organisasi dapat mempercepat jalannya mesin organisasi menuju tujuan yang telah ditentukan. Sebab setiap anggota dalam sebuah organisasi memiliki andil menuju pencapaian tujuan sesuai tugas dan fungsinya.

Setiap anggota dalam organisasi akan bekerja optimal jika anggota tersebut selalu mendapat “suplemen” penyegar semangat sesuai kebutuhannya. Salah satu suplemennya adalah updating ilmu dan pengetahuan. Banyak cara untuk meng-update ilmu dan pengetahuan sesorang dalam satu oraganisasi. Diantaranya kegiatan Pelatihan Kantor Sendiri (PKS) sebagaimana dilakukan olah Inspektorat Daerah Kabupaten Belu.  Cara ini simple, murah dan mudah dilakukan. Kuncinya komitmen pimpinan dan setiap anggota di dalamnya. Juga, spirit rasa ingin tahu sekaligus beritahu yang terpatri dalam jiwa setiap pimpinan dan anggota organisasi. Spirit ini sesungguhnya telah diungkpakan Psikolog Amerika, Joseph Luft dan Harrington Ingham pada tahun 1955 melalui teori mereka tentang Johari window atau jendela Johari.

Inspektorat daerah Kabupaten Belu memiliki kebiasaan ini. Pimpinan dan stafnya, khusus para auditor memiliki komitmen untuk mencaritahu dan memberitahu setiap pengetahuan yang diperoleh, entah melalui diklat formal maupun cara lainnya. Setiap pimpinan/auditor yang sudah mengikuti diklat, bimtek, sosialisasi atau yang terlebih dahulu mendapat informasi atau pengetahuan yang baru memiliki kewajiban untuk memberitahu kepada yang lain melalui kegiatan PKS.  Semangat yang dibangun di sini adalah membagi dan menerima setiap pengetahuan baru yang dimiliki pimpinan/auditor kepada yang lainya. Pelatihan Kantor Sendiri (PKS) ala Auditor Inspektorat Belu adalah momen membagi pengetahuan kepada yang lain yang dilakukan secara struktur. Tujuannya agar setiap Auditor dan pimpinan memiliki pemahaman yang mendekati sama satu dengan yang lain.  Ini tradisi yang baik untuk dikembangkan karena dapat dilakukan kapan saja, tidak membutuhkan biaya yang besar dan mudah dilakukan. Pengetahuan yang mendekati sama satu dengan yang lain dapat menciptakan cara pandang dan cara tindak yang mendekati sama dalam memberikan kesimpulan dalam mencapai tujuan organisasi.

Richard L. Daft (2011: 378), menyatakan: “Culture, the set of the key values, assumptions, understandings, and norms that is shared by members of an organization and taught to new members as correct.” (artinya Budaya, set kunci nilai-nilai, asumsi, pemahaman, dan norma-norma yang dianut oleh anggota organisasi dan diajarkan kepada anggota baru sebagai kebenaran.) *Damas*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *