Pemakaian Obat pada Penderita Rawat Tinggal dengan Penyakit Saluran Pernapasan Bagian Bawah di Unit Pelaksana Fungsional Ilmu Penyakit Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pola pemakaian obat pada pasien anak dengan penyakit saluran pernapasan bagian bawah yang dirawat di Unit Pelaksana Fungsional (UPF) Ilmu Penyakit Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan retrospektif, di mana data rekam medis pasien yang dirawat dengan diagnosis penyakit saluran pernapasan seperti pneumonia, bronkitis, dan bronkiolitis selama periode waktu tertentu dianalisis. Fokus utama penelitian adalah jenis obat yang diberikan, dosis, frekuensi penggunaan, serta kombinasi obat yang dipakai selama masa perawatan.
Data yang dikumpulkan mencakup informasi mengenai antibiotik, bronkodilator, kortikosteroid, dan terapi pendukung lainnya yang diberikan kepada pasien. Evaluasi dilakukan untuk menilai kesesuaian terapi berdasarkan pedoman klinis, keamanan penggunaan obat, serta efektivitas dalam menurunkan gejala dan mempercepat pemulihan pasien.
Hasil Penelitian Farmasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik merupakan kelompok obat yang paling sering digunakan pada pasien dengan penyakit saluran pernapasan bagian bawah. Antibiotik spektrum luas seperti amoksisilin-klavulanat dan sefalosporin generasi ketiga sering kali menjadi pilihan utama. Selain itu, penggunaan bronkodilator seperti salbutamol dan ipratropium bromide juga ditemukan pada sebagian besar pasien, terutama mereka yang memiliki gejala bronkospasme. Kortikosteroid inhalasi dan oral digunakan dalam kasus yang lebih parah untuk mengurangi inflamasi saluran napas.
Terapi pendukung, seperti pemberian cairan intravena dan terapi oksigen, juga banyak diterapkan untuk membantu pasien yang mengalami kesulitan napas. Namun, ditemukan adanya beberapa kasus di mana pemberian antibiotik kurang tepat berdasarkan hasil kultur sputum, yang menunjukkan perlunya peningkatan dalam penggunaan terapi berbasis bukti.
Diskusi
Pola pemakaian obat dalam penelitian ini mencerminkan pendekatan yang umum digunakan dalam pengobatan penyakit saluran pernapasan bagian bawah pada anak-anak, yaitu penggunaan antibiotik dan bronkodilator sebagai pilar utama terapi. Namun, penggunaan antibiotik spektrum luas tanpa mempertimbangkan hasil uji mikrobiologi dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik di masa mendatang. Oleh karena itu, penting untuk lebih memprioritaskan terapi berbasis bukti dengan memanfaatkan hasil kultur mikrobiologi guna mengarahkan pemilihan antibiotik yang lebih tepat.
Penggunaan bronkodilator dan kortikosteroid menunjukkan efektivitas dalam mengelola gejala pernapasan pada pasien, meskipun penggunaannya harus diawasi ketat untuk menghindari efek samping jangka panjang, seperti supresi adrenal pada pasien yang menerima kortikosteroid dalam dosis tinggi atau jangka panjang.
Implikasi Farmasi
Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi farmasi klinis dalam meningkatkan pengelolaan obat pada pasien anak dengan penyakit saluran pernapasan bagian bawah. Apoteker klinis berperan penting dalam memastikan penggunaan antibiotik yang tepat berdasarkan hasil kultur, serta memantau penggunaan kortikosteroid dan bronkodilator untuk mencegah potensi efek samping. Penggunaan obat yang lebih rasional dan sesuai panduan akan meningkatkan kualitas perawatan dan menurunkan risiko komplikasi.
Dengan adanya keterlibatan farmasis dalam tim multidisiplin di rumah sakit, kualitas penggunaan obat dapat ditingkatkan melalui pengawasan terapi obat yang lebih baik, serta edukasi kepada tim medis dan pasien mengenai penggunaan antibiotik dan bronkodilator secara tepat.
Interaksi Obat
Pada pasien dengan penyakit saluran pernapasan bagian bawah, interaksi obat menjadi perhatian khusus, terutama pada penggunaan kombinasi antibiotik, bronkodilator, dan kortikosteroid. Interaksi antara bronkodilator dan kortikosteroid dapat meningkatkan risiko efek samping seperti takikardia atau hiperglikemia. Selain itu, penggunaan antibiotik bersamaan dengan beberapa obat lain dapat mempengaruhi efektivitas terapi atau meningkatkan risiko resistensi bakteri.
Oleh karena itu, penting bagi apoteker untuk memantau interaksi obat dan memberikan rekomendasi yang tepat kepada tim medis untuk menyesuaikan dosis atau mengganti obat yang berpotensi menimbulkan interaksi berbahaya.
Pengaruh Kesehatan
Penyakit saluran pernapasan bagian bawah, seperti pneumonia dan bronkitis, memiliki dampak signifikan pada kesehatan anak-anak, terutama yang berisiko tinggi seperti bayi dan balita. Pengobatan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti gagal napas atau sepsis. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemakaian obat yang rasional, termasuk pemilihan antibiotik yang tepat, dapat meningkatkan peluang pemulihan dan mencegah komplikasi jangka panjang.
Penting bagi tenaga kesehatan untuk memastikan bahwa pasien menerima terapi yang sesuai, serta terus memantau efek samping obat yang dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang pasien, terutama yang berkaitan dengan penggunaan kortikosteroid dan antibiotik.
Kesimpulan
Penelitian ini menemukan bahwa antibiotik, bronkodilator, dan kortikosteroid merupakan obat yang paling umum digunakan dalam pengobatan penyakit saluran pernapasan bagian bawah pada anak-anak di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Meskipun terapi ini efektif dalam mengatasi gejala, masih diperlukan perhatian lebih dalam memilih antibiotik berdasarkan hasil kultur mikrobiologi untuk menghindari resistensi antibiotik.
Apoteker klinis memiliki peran penting dalam mengawasi penggunaan obat secara rasional dan meminimalkan risiko interaksi obat. Kolaborasi antara apoteker dan dokter sangat dibutuhkan untuk memastikan pasien mendapatkan terapi yang optimal.
Rekomendasi
Berdasarkan temuan penelitian ini, direkomendasikan agar rumah sakit lebih sering melakukan pemeriksaan kultur sputum sebelum meresepkan antibiotik untuk memastikan terapi yang lebih spesifik dan mencegah resistensi. Penggunaan bronkodilator dan kortikosteroid harus dipantau dengan ketat untuk mencegah efek samping yang merugikan pada pasien anak.
Pelatihan berkelanjutan bagi dokter dan apoteker mengenai penggunaan obat yang rasional dan berbasis bukti sangat dianjurkan, serta pentingnya pengawasan farmasis dalam meminimalkan interaksi obat dan memastikan keselamatan pasien